Senin, 17 Maret 2014

Kabut Asap di Riau makin Pekat

Saat ini tercatat 43 ribu warga yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Riau menderita ISPA.
SUDAH 1,5 bulan lamanya kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau terjadi. Jarak pandang di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru pun terus menurun.

Pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geo? sika (BMKG) Pekanbaru menyebutkan jarak pandang di bandara itu pada pukul 07.00 WIB ialah 1.000 meter. Dua jam kemudian turun menjadi 800 meter. Bahkan, satu jam setelah itu, tepatnya pukul 11.00 WIB, menjadi hanya 200 meter.

Berita terbaru :


Akibatnya, banyak pesawat tidak bisa mendarat di Pekanbaru. Sampai sekarang kebakaran lahan dan hutan masih terjadi di Riau bagian utara seperti Dumai, Bengkalis, dan Pulau Meranti.

Angin bertiup dari arah timur laut dan menyebabkan asap mengarah ke Kota Pekanbaru dan wilayah lain yang ada di selatan.

Kabut asap pekat yang menyelimuti Riau termasuk Bandara SSK II menyebabkan 300 penerbangan dari dan menuju Pekanbaru terganggu. Kabut
asap mulai mengganggu sejak sebulan terakhir. “Kalau rata-rata ada 10 penerbangan dalam sehari terganggu, dikalikan selama 30 hari, berarti paling sedikit ada 300 jadwal penerbangan terganggu akibat kabut asap,” kata Airport Duty Manager Bandara SSK II, Ibnu Hasan, kemarin.

Pihak bandara pun mengklaim kerugian cukup besar baik bagi maskapai maupun Bandara SSK II yang dikelola PT Angkasa Pura II. “Saya tidak bisa memerinci berapa nilai kerugian bandara saat ada kabut asap ini. Yang jelas cukup besar karena satu pesawat saja, seharusnya bisa dikenai biaya operasional mulai saat mengudara hingga di landasan,” kata Ibnu.

Disebutkannya, terhadap setiap maskapai yang jadwal penerbangannya molor, pihak manajemen harus mengeluarkan biaya tambahan untuk konsumsi calon penumpang. Apalagi pada pesawat yang gagal terbang, manajemen harus menggantikan uang atau memberikan tiket terbaru untuk
jadwal hari berikutnya.

Tidak kalah penting ialah reputasi bandara di dunia internasional. Banyak pesawat dari luar negeri saat ini enggan mendarat di Bandara SSK II dan memilih bandara lain untuk menghindari kabut asap.
Pantauan satelit NOAA-18 dan Modis Terra dan Aqua menunjukkan masih banyak titik api di Riau bagian utara.

Satelit NOAA-18 mendeteksi 10 titik api yang tersebar di Bengkalis dan Dumai.

Adapun satelit Modis Terra dan Aqua mendeteksi masih ada 377 titik api yang tersebar di Bengkalis, Dumai, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Meranti, Pelalawan, Rokan Hilir, dan Siak.
Kabut asap yang semakin pekat juga menyebabkan jumlah penderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) terus meningkat. Saat ini tercatat 43 ribu warga yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Riau menderita ISPA.

Data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Riau yang dikirim ke Tim Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap menyebutkan, hingga Jumat (7/3) malam, jumlah penderita ISPA menjadi 43 ribu orang. Padahal, pada pekan lalu jumlah pasien ISPA yang berobat ke rumah sakit dan puskesmas baru mencapai 30 ribu orang. “Jumlah penderita ISPA terbanyak berada di Kota Pekanbaru, yakni 9.268 jiwa, disusul di Kabupaten Rokan Hilir 7.520 jiwa,“ kata Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho.

Selain ISPA, penyakit lain yang timbul akibat kabut asap ialah pneumonia, iritasi mata dan kulit, serta asma.
(RK/BG/Ant/N-3/ Media Indonesia,09/03/2014)